![]()
BATU BARA ,Detik24Jam
Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari saat kesunyian di Kelurahan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, mendadak berubah menjadi ketegangan yang pekat. Minggu, 19 April 2026, puluhan pemuda tampak berkumpul di beberapa sudut jalan, diduga kuat tengah mempersiapkan sebuah aksi tawuran yang dapat pecah kapan saja.
Namun, sebelum bentrokan fisik sempat melukai malam itu, jajaran Polsek Talawi bergerak cepat. Di bawah komando Kanit Reskrim Ipda BZ Damanik, bersama Kanit Intel Bripka Irfan dan tim, aparat kepolisian muncul bukan dengan raungan sirine yang intimidatif, melainkan dengan pendekatan yang lebih menyentuh sisi psikologis para remaja tersebut.
Sebanyak 32 pemuda berhasil diamankan. Alih-alih langsung digiring ke balik jeruji besi dengan tindakan represif, petugas memilih untuk “berdialog” dengan masa depan mereka. Di tengah remang cahaya malam, Ipda BZ Damanik melontarkan kalimat yang seketika membungkam nyali pemberontakan para pemuda itu.
“Suatu saat kalian akan menjadi orang tua dan memiliki anak. Bayangkan jika anak kalian pada pukul satu dini hari belum juga pulang ke rumah, apa yang kalian rasakan?” ujar Damanik dengan nada bicara yang rendah namun dalam, menggugah nalar para pemuda yang tertunduk lesu.
Kapolsek Talawi, AKP Arianto Sitorus, melalui Kanit Reskrim menjelaskan bahwa strategi preventif ini sengaja mengedepankan pembinaan humanis. Menurutnya, aksi tawuran sering kali berakar dari hilangnya empati dan kurangnya kontrol diri. Dengan membawa perspektif sebagai calon orang tua, polisi berharap ada kesadaran yang tumbuh dari dalam hati, bukan sekadar takut karena ancaman hukum.
Langkah Polsek Talawi ini menjadi bagian dari upaya Polres Batu Bara untuk menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Bagi kepolisian, melindungi generasi muda dari dampak kekerasan dan pergaulan bebas jauh lebih krusial daripada sekadar menegakkan aturan formal.
Meski situasi berhasil diredam secara kondusif, pihak kepolisian tetap memberikan imbauan keras kepada para orang tua di wilayah Batu Bara. Kerjasama antara keluarga dan aparat dianggap sebagai kunci utama agar anak-anak tidak lagi berkeliaran di jam-jam rawan yang berpotensi menyeret mereka ke dalam pusaran tindak kriminal.
Malam itu di Tanjung Tiram berakhir tanpa darah. Upaya Polsek Talawi membuktikan bahwa komunikasi yang empatik terkadang jauh lebih efektif daripada tindakan tangan besi dalam meredam bara konflik di kalangan remaja.
(Red/Boys-3)

Berita Sebelumnya..
Minggu Kasih di Lima Puluh: Upaya Satresnarkoba Polres Batu Bara Merangkul Warga dan Perangi Narkoba
Evaluasi Pendamping Desa tahun 2025 Dipersoalkan,anggota DPRD Batu Bara dari fraksi gerindra andriansyah, sh Nilai Pendamping Berpengalaman Justru Di korbankan
Polres Batu Bara Lakukan Blue Light, Jaga Keamanan di Pos Pam dan Pos Yan